JAKARTA - Wajah kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Tanah Air kini tengah mengalami transformasi besar dengan gelombang kedatangan para pemain diaspora. Jika beberapa tahun lalu arah perpindahan pemain lebih banyak menuju ke luar negeri, musim 2025/2026 justru menunjukkan arus balik yang signifikan. Sejumlah nama beken yang memiliki garis keturunan Indonesia mulai memadati daftar susunan pemain klub-klub lokal. Fenomena ini tidak lagi dilihat sebagai sebuah kemunduran, melainkan sebuah langkah strategis dalam manajemen karier profesional di dunia si kulit bundar.
Bergabungnya pemain-pemain diaspora ke klub Liga Indonesia merupakan hal yang wajar dalam perjalanan karier pesepak bola profesional, terutama untuk mendapatkan menit bermain lebih banyak. Dinamika ini menunjukkan bahwa Liga Indonesia mulai menjadi destinasi yang menjanjikan bagi mereka yang membutuhkan panggung kompetitif untuk membuktikan kualitasnya kembali.
Menjaga Performa Melalui Menit Bermain yang Konsisten
Salah satu alasan fundamental di balik tren ini adalah kebutuhan atlet akan jam terbang di lapangan hijau. Berlatih di klub elite luar negeri tentu memberikan pengalaman berharga, namun tanpa pertandingan kompetitif, kemampuan seorang pemain dapat stagnan. “Sebagian besar pemain yang memilih kembali atau pindah ke Indonesia adalah mereka yang kesulitan menembus tim utama di klub luar negeri. Kondisi tersebut membuat mereka perlu mencari lingkungan baru demi menjaga performa.,” ujar pengamat sepak bola nasional Mohamad Kusnaeni dikutip dari Antara, Selasa.
Keputusan untuk berpindah klub sering kali didasari oleh logika bertahan hidup di industri yang sangat kompetitif. “Pemain yang terlalu lama berada di bangku cadangan berisiko mengalami penurunan kemampuan. Karena itu, pindah ke liga yang memberi peluang tampil lebih besar bisa menjadi pilihan rasional untuk menjaga ritme permainan,” katanya. Hal ini memberikan gambaran bahwa bermain di liga domestik jauh lebih baik bagi perkembangan fisik dan taktis dibandingkan hanya menjadi penonton di kompetisi Eropa.
Daftar Nama Besar yang Meramaikan Super League Indonesia
Sejak awal musim 2025, sejumlah pemain berdarah Indonesia tercatat bergabung dengan klub Tanah Air. Pergerakan ini melibatkan nama-nama yang sudah sangat akrab di telinga pendukung tim nasional. Di antaranya Jordi Amat dari Johor Darul Ta'zim ke Persija Jakarta, Rafael Struick dari Brisbane Roar ke Dewa United, Jens Raven dari FC Dordrecht ke Bali United, serta Thom Haye dan Eliano Reijnders yang merapat ke Persib Bandung.
Gelombang ini tidak berhenti di awal musim. Pada paruh musim, Shayne Pattynama bergabung dengan Persija, sementara Dion Markx merapat ke Persib. Terbaru, Mauro Zijlstra sepakat menandatangani kontrak bersama Persija, serta Ivar Jenner yang memilih bergabung dengan Dewa United. Kehadiran mereka secara otomatis meningkatkan profil dan daya tarik kompetisi secara global, sekaligus memberikan standar baru bagi kualitas permainan di liga lokal.
Diferensiasi Profil dan Masa Depan Pemain Diaspora
Mohamad Kusnaeni juga membedakan profil pemain diaspora yang datang ke Indonesia. Ia melihat adanya dua kategori utama dalam gelombang kepindahan ini. Ada yang sudah melewati usia emas seperti Jordi Amat, serta yang masih dalam tahap awal karier profesional seperti Jens Raven dan Mauro Zijlstra. Perbedaan profil ini membawa misi yang berbeda pula bagi masing-masing pemain. Bagi pemain senior, mereka membawa kepemimpinan dan pengalaman, sementara bagi pemain muda, Indonesia adalah laboratorium pengembangan diri.
“Bagi pemain muda, kepindahan ini bisa menjadi pijakan untuk mengasah kemampuan sebelum kembali mencoba peruntungan di Eropa atau kompetisi lain.,” lanjutnya. Dengan bermain secara reguler di Indonesia, para pemain muda ini tetap bisa terpantau oleh pemandu bakat internasional sambil mempertahankan kebugaran mereka untuk panggilan tim nasional.
Menepis Pandangan Negatif Terhadap Kepulangan Pemain
Meski muncul anggapan bahwa tren ini bertolak belakang dengan cita-cita pemain Indonesia yang ingin berkarier di Eropa, Kusnaeni menilai setiap pemain memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda. Pandangan bahwa kembali ke Indonesia adalah sebuah kegagalan karier mulai terkikis oleh fakta bahwa kualitas liga domestik terus membaik seiring dengan masuknya pemain-pemain berkualitas.
Strategi ini justru dianggap sebagai langkah penyelamatan karier agar tidak layu sebelum berkembang. “Bertahan di luar negeri tanpa kesempatan bermain, justru bisa menghambat kemajuan karier,” pungkasnya. Pada akhirnya, Liga Indonesia musim 2025/2026 telah membuktikan diri sebagai pelabuhan yang tepat bagi para diaspora untuk merajut kembali mimpi besar mereka di lapangan hijau.