JAKARTA - Pasar modal Indonesia menunjukkan ketangguhan yang luar biasa di tengah dinamika arus modal global yang fluktuatif. Menutup pekan kedua di bulan Februari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menorehkan performa gemilang dengan penguatan yang signifikan. Namun, di balik reli positif tersebut, terdapat anomali berupa aksi lepas saham besar-besaran oleh investor mancanegara yang mencatatkan nilai penjualan bersih hingga triliunan rupiah.
Laju indeks yang berhasil menembus zona hijau ini menjadi sinyal positif bagi kepercayaan investor domestik, meskipun bayang-bayang tekanan jual asing masih menghantui lantai bursa. Pergerakan ini sekaligus menggambarkan volatilitas pasar yang masih tinggi namun tetap mampu mencatatkan pertumbuhan kapitalisasi yang impresif dalam kurun waktu lima hari perdagangan terakhir.
Performa IHSG dan Lonjakan Volume Perdagangan
Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan bahwa IHSG berhasil menguat sebesar 3,49 persen sepanjang periode 9–13 Februari 2026. Indeks mengakhiri perdagangan pada Jumat, 13 Februari 2026, di level 8.212,27. Angka ini merupakan lompatan yang cukup tajam jika dibandingkan dengan posisi penutupan pekan sebelumnya yang hanya bertengger di level 7.935,26.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, memberikan konfirmasi mengenai tren positif ini. Dalam keterangan tertulisnya, beliau menyatakan bahwa hampir seluruh instrumen data perdagangan menunjukkan hasil yang memuaskan.
“Data perdagangan saham di BEI selama periode 9–13 Februari 2026 mayoritas ditutup dengan positif,” kata Kautsar Primadi Nurahmad dalam siaran pers, dikutip Ahad, 15 Februari 2026.
Optimisme pasar tercermin dengan jelas pada volume transaksi harian yang menjadi motor penggerak utama pertumbuhan pekan ini. Volume perdagangan meningkat 4,73 persen, dari 43,20 miliar lembar saham pada pekan lalu menjadi 45,24 miliar lembar saham. Hal ini menunjukkan likuiditas pasar yang sangat cair dan partisipasi aktif dari para pelaku pasar lokal.
Pertumbuhan Kapitalisasi Pasar Mencapai Rp14.889 Triliun
Seiring dengan kenaikan indeks, nilai pasar secara keseluruhan atau kapitalisasi pasar BEI juga ikut terkerek naik. Tercatat terjadi kenaikan sebesar 3,83 persen, di mana nilai kapitalisasi pasar kini mencapai Rp14.889 triliun, meningkat dari angka Rp14.341 triliun pada sepekan sebelumnya. Kenaikan ini mempertegas posisi pasar modal Indonesia yang kian ekspansif di awal tahun 2026.
Dari sisi aktivitas, intensitas perdagangan harian juga menunjukkan tren mendaki. Rata-rata frekuensi transaksi harian mengalami peningkatan tipis sebesar 0,37 persen, yang setara dengan 2,74 juta kali transaksi dibandingkan pekan lalu yang berada di angka 2,73 juta kali transaksi. Angka frekuensi yang tetap tinggi ini mengindikasikan bahwa minat beli investor ritel dan institusi dalam negeri tetap terjaga di tengah sentimen global.
Anomali Modal Asing dan Penurunan Nilai Transaksi
Meskipun indeks dan volume perdagangan melonjak, terdapat catatan merah pada sisi nilai transaksi harian. BEI mencatat adanya penurunan rata-rata nilai transaksi harian sebesar 6,27 persen menjadi Rp23,20 triliun, turun dari angka pekan sebelumnya yang mencapai Rp24,75 triliun. Penurunan ini memberikan indikasi bahwa meskipun jumlah saham yang ditukar lebih banyak, namun secara nilai nominal per transaksi terjadi penyusutan.
Kondisi yang paling menjadi sorotan adalah perilaku investor asing. Di tengah euforia penguatan indeks domestik, pemodal luar negeri justru gencar melakukan aksi jual. Pada penutupan Jumat, 13 Februari 2026, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih senilai Rp2,03 triliun. Jika diakumulasikan sepanjang tahun 2026, tekanan jual dari investor mancanegara telah mencapai angka fantastis, yakni sebesar Rp16,49 triliun. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran aset atau rebalancing portofolio oleh pengelola dana global dari pasar negara berkembang.
Emiten Paling Aktif dan Dominasi Saham-Saham Populer
Bursa Efek Indonesia juga merilis daftar saham yang paling gencar ditransaksikan oleh para pelaku pasar. Berdasarkan data per Jumat, 13 Februari 2026, emiten ZATA keluar sebagai pemimpin pasar dalam hal aktivitas dengan frekuensi perdagangan mencapai 219.900 kali. Posisi ini menunjukkan minat spekulatif maupun investasi yang sangat tinggi terhadap saham tersebut.
Menyusul di posisi berikutnya, beberapa nama emiten besar dan emiten energi juga menunjukkan dominasinya. BUMI mencatatkan frekuensi transaksi sebanyak 186.756 kali, disusul oleh BELL dengan 86.319 kali transaksi. Saham blue chip perbankan, BBCA, juga tetap menjadi primadona dengan 81.301 kali transaksi, sementara DEWA menutup daftar lima besar dengan catatan 70.954 transaksi.
Kombinasi antara kenaikan indeks yang didorong oleh kekuatan domestik dengan aksi jual asing yang masih masif membuat pergerakan bursa ke depan diprediksi akan tetap menantang. Investor diharapkan tetap waspada terhadap volatilitas, mengingat besarnya dana asing yang keluar dapat memberikan tekanan sewaktu-waktu terhadap stabilitas harga saham di masa mendatang.