Wardah Inspiring Teacher 2026: 25.000 Guru Siap Kuasai Teknologi AI

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:11:36 WIB
Wardah Inspiring Teacher 2026: 25.000 Guru Siap Kuasai Teknologi AI

JAKARTA - Wajah pendidikan Indonesia tengah bersiap menyambut gelombang transformasi digital yang lebih masif. Melalui inisiatif tahunan Paragon Corp, program Wardah Inspiring Teacher (WIT) kembali hadir dengan misi ambisius: membekali 25.000 guru terpilih dari berbagai penjuru negeri dengan keahlian masa depan. Tahun ini, fokus utama tidak lagi hanya pada metode pengajaran konvensional, melainkan pada penguasaan computational thinking dan kecerdasan artifisial (AI), sebuah langkah strategis untuk memastikan pendidik lokal mampu berdiri sejajar dengan perkembangan teknologi global.

Kolaborasi Strategis Bersama ITB dan Microsoft

Ada yang berbeda pada penyelenggaraan WIT edisi 2026. Untuk pertama kalinya dalam sejarah program ini, Wardah Inspiring Teacher menjalin kemitraan formal dengan institusi pendidikan tinggi ternama, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB). Langkah ini diambil agar kurikulum yang diberikan kepada para guru menjadi lebih terstruktur, terarah, dan memiliki landasan akademik yang kuat.

Selain dukungan dari akademisi dalam negeri, program ini juga melebarkan sayapnya dengan menggandeng raksasa teknologi dunia, Microsoft. Kerja sama ini bertujuan memberikan akses langsung bagi para pendidik terhadap ekosistem teknologi terkini. Tidak tanggung-tanggung, para guru berprestasi nantinya direncanakan untuk mendapatkan pengalaman belajar internasional.

“Rencananya juga akan membawa guru-guru untuk belajar teknologi, AI ke Microsoft yang ada di Singapura,” ungkap Suci Hendrina, Head of CSR & Corporate Communication Paragon Corp, saat seremoni pembukaan di Bandung.

Menjawab Tantangan Kompetensi Abad ke-21

Suci Hendrina menegaskan bahwa kurikulum tahun ini dirancang secara khusus untuk menjawab kebutuhan zaman. Jika pada tahun-tahun sebelumnya WIT sangat kental dengan metode project-based learning, maka tahun ini aspek tersebut diperkaya dengan literasi digital tingkat lanjut. Program ini ingin menjadi pemantik bagi para guru untuk mengembangkan kompetensi yang relevan dengan dinamika abad ke-21.

Metode project-based learning tetap dipertahankan sebagai inti dari pengajaran, di mana murid didorong untuk peka terhadap masalah sosial di sekitar mereka dan mencari solusinya secara kolaboratif. Namun, dengan integrasi teknologi, solusi yang dihasilkan diharapkan bisa lebih inovatif.

“Di tahun ini kita juga selain project-based learning, kita juga mengangkat juga topik computational thinking dan AI for teachers,” tambah Suci. Perpaduan antara empati sosial dan kecanggihan teknologi inilah yang diharapkan lahir dari tangan para guru lulusan WIT.

Etika dan Tata Kelola AI dalam Dunia Pendidikan

Kecerdasan artifisial sering kali dipandang sebagai pisau bermata dua. Menyadari hal tersebut, ITB sebagai mitra akademik memberikan penekanan khusus bahwa pemanfaatan AI tidak boleh hanya sekadar teknis, tetapi harus dibarengi dengan pemahaman etika yang mendalam.

Wakil Rektor Bidang Akademik ITB, Irwan Meilano, menyatakan bahwa kehadiran kecerdasan buatan dalam ruang kelas sudah tidak mungkin lagi dihindari. Oleh karena itu, tugas pendidik saat ini adalah menjadi navigator yang bijak dalam menggunakan teknologi tersebut.

“Menjadi kenisayaan bahwa AI digunakan di dunia pendidikan, sehingga membahami etika penggunaan, governance dari AI itu menjadi penting,” tutur Irwan. Ia menekankan bahwa guru tidak boleh ditelan oleh teknologi, melainkan harus memiliki kendali penuh atas penggunaannya.

Tiga Pilar Guru dalam Menghadapi Kecerdasan Buatan

Lebih lanjut, Irwan Meilano menjabarkan tiga poin utama yang harus dikuasai guru saat berinteraksi dengan teknologi AI. Pertama adalah pemahaman tentang cara kerja sistem tersebut agar guru memiliki nalar kritis terhadap hasil yang diberikan oleh mesin.

“Kemudian yang kedua, memahami bagaimana AI bekerja. Jadi batasan mana kita bisa percaya, batasan mana kita bisa skeptis dengan hasilnya,” tambahnya. Sikap skeptis yang sehat ini penting agar guru tetap menjadi rujukan utama kebenaran informasi bagi siswa.

Pilar ketiga adalah kemampuan untuk "memeluk" atau mengadopsi teknologi tersebut secara maksimal tanpa rasa takut. Irwan menyebutnya sebagai upaya untuk embrace AI, yaitu memanfaatkan kecanggihan fitur-fiturnya untuk meningkatkan efektivitas pengajaran dan kreativitas di ruang kelas.

Membangun Ekosistem Pendidikan yang Berkelanjutan

Program Wardah Inspiring Teacher 2026 ini diharapkan tidak hanya berhenti pada pelatihan singkat, tetapi mampu menciptakan ekosistem pendidik yang progresif. Dengan target 25.000 guru, dampak yang dihasilkan diharapkan bisa dirasakan oleh jutaan siswa di seluruh Indonesia.

Integrasi antara computational thinking (cara berpikir komputasional) dengan pemecahan masalah secara kreatif akan menjadi bekal berharga bagi para guru untuk mencetak generasi muda yang siap bersaing di kancah global. Dukungan Paragon Corp melalui WIT membuktikan bahwa kolaborasi antara sektor swasta, perguruan tinggi, dan industri teknologi dunia adalah kunci utama dalam melakukan lompatan mutu pendidikan nasional.

Seiring dibukanya program ini di Bandung, harapan besar kini tertumpu pada pundak para pendidik terpilih tersebut untuk membawa perubahan nyata, mulai dari ruang kelas yang paling sederhana hingga ke pusat-pusat inovasi digital di tanah air.

Terkini