Disrupsi Mobil Listrik Murah: Akankah BYD Atto 1 Menggusur Dominasi LCGC?

Minggu, 15 Februari 2026 | 09:40:41 WIB
Disrupsi Mobil Listrik Murah: Akankah BYD Atto 1 Menggusur Dominasi LCGC?

JAKARTA - Lanskap industri otomotif tanah air sedang mengalami pergeseran tektonik. Kehadiran mobil listrik (EV) dengan banderol harga di kisaran Rp 200 jutaan kini tidak lagi sekadar menjadi alternatif, melainkan ancaman nyata bagi penguasa pasar tradisional. BYD Atto 1, sebagai salah satu pendatang baru yang agresif, mulai menunjukkan taringnya dalam merebut hati konsumen yang selama ini menjadi target utama segmen Low Cost Green Car (LCGC).

Fenomena ini memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat otomotif: apakah mobil listrik murah akan benar-benar "memakan" jatah pasar mobil rakyat seperti Brio, Agya, dan kawan-kawan? Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun efisiensi mesin bensin masih memiliki peminat, daya tarik teknologi nir-emisi dengan fitur melimpah sulit untuk diabaikan.

Dinamika Penjualan: Ancaman Nyata di Tahun 2025

Sepanjang tahun 2025, sinyal bahaya bagi produsen LCGC mulai terlihat jelas. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), volume penjualan mobil di segmen kendaraan murah ramah lingkungan tersebut mengalami kemerosotan tajam hingga 30 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan ini secara langsung berkorelasi dengan penetrasi pasar yang dilakukan oleh BYD Atto 1.

Kejutan sempat terjadi pada periode Oktober 2025, di mana angka penjualan BYD Atto 1 secara mengejutkan mampu melampaui total akumulasi penjualan seluruh model LCGC di Indonesia. Kendati demikian, jika melihat gambaran besar selama satu tahun penuh di 2025, segmen LCGC secara kolektif masih memegang keunggulan volume dibandingkan sang pendatang baru berbasis baterai tersebut.

Rapor Januari 2026: Dominasi LCGC Masih Bertahan

Memasuki bulan pertama tahun 2026, peta persaingan kembali menunjukkan dinamika yang menarik. Berdasarkan laporan distribusi terbaru dari Gaikindo, segmen LCGC masih mampu menjaga jarak aman dari gempuran BYD Atto 1. Tercatat, distribusi BYD Atto 1 pada Januari 2026 berada di angka 3.361 unit.

Di sisi lain, lima model andalan di segmen LCGC—yakni Honda Brio Satya, Toyota Calya, Toyota Agya, Daihatsu Sigra, dan Daihatsu Ayla—secara total masih mendominasi dengan catatan distribusi sebanyak 10.694 unit. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun tertekan, basis konsumen mobil konvensional harga terjangkau masih cukup besar di Indonesia.

Tantangan Desain dan Fitur di Kelas Rp 200 Jutaan

Kekhawatiran mengenai masa depan LCGC bukan tanpa alasan. Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, sempat mengungkapkan bahwa penetrasi mobil listrik murah telah mengganggu stabilitas pasar yang selama ini mapan. Konsumen kini dihadapkan pada pilihan yang sulit: tetap di jalur konvensional atau beralih ke teknologi masa depan dengan budget yang hampir serupa.

"LCGC kita rusak, turun sampai 37 persen. Karena sekarang dengan Rp 200 jutaan orang sudah bisa dapat mobil listrik dengan desain bagus dan fitur lengkap," ungkap Jongkie dalam sebuah kesempatan.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa keunggulan mobil listrik bukan hanya pada mesinnya yang ramah lingkungan, tetapi juga pada kemasan desain dan kelengkapan fitur yang seringkali setara dengan mobil di kelas atasnya, sehingga membuat nilai tawar LCGC menjadi terlihat kurang kompetitif.

Faktor Ekonomi dan Kendala Kredit Macet

Namun, penurunan performa LCGC tidak serta-merta disebabkan oleh faktor produk semata. Ada variabel ekonomi makro yang turut bermain, terutama berkaitan dengan profil pembeli di segmen ini. Mayoritas pembeli mobil pertama (first time buyer) sangat bergantung pada fasilitas pembiayaan atau kredit.

Kondisi industri pembiayaan pada tahun lalu menghadapi tantangan berat akibat tingginya rasio kredit macet. Hal ini menyebabkan pengetatan kriteria persetujuan kredit yang berdampak langsung pada daya beli konsumen LCGC. Di saat yang sama, konsumen mobil listrik cenderung datang dari segmen ekonomi yang sedikit lebih stabil atau merupakan pembeli mobil kedua, sehingga lebih tahan terhadap fluktuasi kebijakan pembiayaan.

Optimisme di Tengah Transisi Elektrifikasi

Meski pasar LCGC sedang berada di bawah tekanan besar, Gaikindo masih melihat adanya titik terang. Jongkie Sugiarto meyakini bahwa pasar kendaraan murah tetap memiliki potensi fundamental yang besar di Indonesia, mengingat rasio kepemilikan mobil yang masih terus berkembang. Pergeseran ke arah elektrifikasi dianggap sebagai sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh seluruh pemain industri.

Pemerintah sendiri dikabarkan masih memberikan perhatian khusus pada segmen LCGC agar tidak benar-benar tumbang, mengingat kontribusinya terhadap industri komponen lokal dan penyerapan tenaga kerja yang masif. Pertarungan antara efisiensi biaya operasional mobil listrik melawan kemudahan akses mobil bensin murah diprediksi akan terus memanas sepanjang tahun 2026.

Pertanyaannya kini bukan lagi mana yang lebih baik, melainkan seberapa cepat produsen LCGC bisa beradaptasi dengan ekspektasi konsumen yang kini telah "dirusak" oleh kemewahan fitur mobil listrik seharga Rp 200 jutaan.

Terkini