JAKARTA - Optimisme menyelimuti langkah ekspansi PT Blue Bird Tbk. pada 2026.
Di tengah dinamika ekonomi dan sentimen global yang masih fluktuatif, emiten berkode BIRD tersebut justru bersiap menambah belanja modal serta memperkuat armada dan teknologi digitalnya.
Strategi ini dipandang sebagai fondasi untuk menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus merespons kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang.
PT Blue Bird Tbk (BIRD) menilai prospek bisnis pada 2026 ini bakal lebih baik dibandingkan tahun lalu, seiring rencana peningkatan belanja modal (capital expenditure/capex), penambahan armada, serta penguatan fitur digital.
Keyakinan tersebut muncul setelah perusahaan mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025 dan melihat peluang pertumbuhan yang tetap terbuka.
Capex dan Penambahan Armada
Direktur Utama BIRD Adrianto Djokosoetono mengatakan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan, perseroan memastikan pembelian armada baru tetap berjalan. Bahkan, alokasi capex tahun ini dianggarkan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Meski belum merinci persentase kenaikan maupun jumlah unit tambahan, manajemen memberi sinyal ekspansi armada akan lebih agresif.
“Pembelian armada selalu ada. Tahun ini kami anggarkan lebih besar dari tahun lalu,” katanya.
Penambahan armada menjadi elemen penting dalam menjaga daya saing di industri transportasi. Dengan armada yang lebih segar dan jumlah yang memadai, perusahaan berharap dapat meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperluas jangkauan operasional.
Selain menjaga ketersediaan unit, langkah ini juga diharapkan dapat mendorong efisiensi operasional. Armada baru biasanya menawarkan performa lebih baik dan biaya perawatan yang lebih rendah, sehingga mendukung kinerja jangka panjang.
Outlook dan Tantangan Ekonomi
Dari sisi outlook, Blue Bird mengakui tantangan utama industri saat ini masih berkutat pada siklus ekonomi. Perseroan mengatakan apabila ekonomi tumbuh lebih tinggi tentu akan baik bagi bisnis perseroan.
"Tapi walaupun growth-nya lebih rendah dari tahun lalu, tetap ada growth. Jadi kami optimistis,” ujarnya.
Andre, sapaan akrabnya, tak memungkiri sentimen global seperti gejolak geopolitik dan fluktuasi pasar keuangan termasuk koreksi pasar yang sempat terjadi, diakui sebagai faktor eksternal yang tak terhindarkan. Namun, dia menilai kondisi tersebut sebagai bagian dari dinamika, sehingga tetap mematok target optimistis pada tahun ini.
“Secara umum rasanya tahun ini bisa lebih baik dari tahun lalu, meskipun tetap ada challenge yang tidak bisa diprediksi,” tambahnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa manajemen menyadari adanya risiko, tetapi tetap melihat peluang pertumbuhan. Keyakinan tersebut didukung oleh tren permintaan yang masih solid serta posisi merek Blue Bird yang kuat di pasar.
Momen Ramadan dan Lebaran
Mendekati momentum Ramadan dan Idulfitri, perseroan biasanya mencatat pola musiman berupa peningkatan aktivitas atau pergerakan masyarakat tetapi kondisi tersebut bergantung kepada lamanya periode liburan. Tradisi mudik yang memicu mobilitas dari kota besar ke kota kecil menjadi dinamika tersendiri.
Lonjakan permintaan tersebut dinilai hanya bersifat temporer. Setelah periode libur berakhir, mobilitas cenderung kembali normal. Namun, momentum ini tetap menjadi peluang signifikan untuk mendongkrak pendapatan dalam jangka pendek.
Perubahan mobilitas saat mudik dan arus balik membutuhkan kesiapan armada yang optimal. Oleh karena itu, penambahan unit baru juga dipandang sebagai langkah antisipatif terhadap lonjakan permintaan musiman.
Penguatan Digital dan Inovasi
Selain ekspansi fisik, Blue Bird juga menyiapkan peningkatan investasi di sektor teknologi. Dalam waktu dekat, perseroan akan meluncurkan pembaruan fitur pada aplikasi MyBluebird.
Penguatan fitur digital menjadi strategi penting untuk mempertahankan loyalitas pelanggan sekaligus menjawab kebutuhan pasar yang semakin mengandalkan aplikasi.
Digitalisasi memungkinkan perusahaan meningkatkan pengalaman pengguna, mulai dari kemudahan pemesanan hingga transparansi tarif. Dengan integrasi teknologi yang lebih baik, Blue Bird berupaya memperkuat posisinya di tengah persaingan industri transportasi berbasis aplikasi.
Kinerja Keuangan Tetap Tumbuh
Sebagai gambaran BIRD mencetak kinerja positif sepanjang Januari-September 2025. Kinerja perusahaan taksi milik keluarga Djokosoetono tersebut tumbuh, baik dari sisi topline maupun bottomline.
Pendapatan Bluebird menyentuh Rp4,12 triliun hingga kuartal III/2025, tumbuh 12,4% dibandingkan periode yang sama. Sedangkan laba bersih meningkat 10,5 persen menjadi Rp488 miliar.
Sekitar 70% kontribusi pendapatan Bluebird berasal dari segmen taksi dan 30% segmen non-taksi. Segmen taksi mencatat kinerja positif, didorong oleh peningkatan permintaan di luar Jadetabek yang menunjukkan pemulihan kuat serta optimalisasi armada yang efektif.
Sementara segmen non-taksi juga terus menguat, terutama melalui layanan bus, shuttle, dan BRT yang berkembang dengan perluasan jangkauan dan okupansi yang meningkat.
Dengan kombinasi ekspansi armada, peningkatan capex, penguatan digital, dan performa keuangan yang solid, Blue Bird menatap 2026 dengan optimisme. Meski tantangan eksternal tetap ada, manajemen yakin strategi yang dijalankan dapat menjaga pertumbuhan dan memperkuat posisi perseroan di industri transportasi nasional.